Berdalih Lindungi Diri dari Palestina, Israel Berniat Izinkan Warganya Pegang Senjata


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Mengumumkan Rencana Agar Warga Sipil Yahudi Diizinkan Membawa Senjata

Tentara Israel berpatroli di wilayah Tepi Barat yang dihuni oleh warga Palestina. Foto oleh MENAHEM KAHANA/AFP via Getty Images

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidatonya pada 29 Januari 2023, mengumumkan rencana pemerintahnya untuk “memperluas dan mempercepat proses penerbitan izin senjata api kepada ribuan warga sipil Israel”. Keputusan itu diambil setelah dua insiden penembakan oleh warga Palestina di Yerusalem Timur bertepatan dengan Hari Peringatan Holocaust.

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mendukung penuh inisiatif perdana menteri. “Warga sipil dapat melindungi diri mereka sendiri jika mereka membawa senjata,” katanya.

Sebagai balas dendam atas serangan akhir pekan lalu, dia berjanji akan memperluas area pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Penembakan pertama yang menargetkan tempat suci di Yerusalem Timur terjadi pada Jumat (27/1/2023) pekan lalu. Tujuh orang tewas dan tiga lainnya luka-luka dalam insiden itu. Pelakunya adalah pemuda Palestina berusia 21 tahun. Dia ditembak mati di tempat kejadian.

Syuting dilanjutkan keesokan harinya di Kota Tua. Kali ini, dua orang terluka dan pelakunya adalah anak laki-laki berusia 13 tahun. Bocah itu juga ditembak, tetapi selamat. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit. Otoritas Israel telah menutup rumah kedua pelaku.

Kedua serangan tersebut diduga dimotivasi oleh balas dendam terhadap pasukan keamanan Israel yang membunuh sembilan warga Palestina, termasuk seorang wanita berusia 61 tahun, di kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat. Serangan itu adalah yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

Keputusan tersebut merupakan salah satu dari banyak rencana yang akan direalisasikan oleh pemerintah baru Israel, yang selama ini menghadapi banyak penentangan dari rakyatnya sendiri. Warga Israel menolak untuk menyusun RUU yang mereka khawatirkan akan mengubah peradilan negara. Reaksi mereka berkembang menjadi demonstrasi besar-besaran selama empat akhir pekan berturut-turut. Puluhan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes. Beberapa dari mereka juga mengkritik sikap pemerintah terhadap Palestina.

Demonstrasi di Tel Aviv.  Foto: Jack Guez/AFP melalui Getty Images

Demonstrasi di Tel Aviv. Foto: Jack Guez/AFP melalui Getty Images

Banyak yang khawatir RUU itu akan merusak kekuasaan Mahkamah Agung, badan peradilan tertinggi yang mengawasi jalannya pemerintahan di Israel, jika disahkan. Hal ini dapat memungkinkan pejabat yang korup mendominasi kursi pemerintahan, meskipun memiliki reputasi buruk. PM Netanyahu, misalnya, menghadapi tiga kasus korupsi. Namun, dia bersikeras bahwa skandal korupsi sengaja menjebaknya karena motif politik.

PM Netanyahu menegaskan dia bisa menang lagi berkat rakyat Israel. Bahkan, demonstrasi penduduk kerap terjadi untuk memprotes rezimnya. Gelombang demonstrasi diperkirakan akan meluas di Israel menentang RUU tersebut.


Berdalih Lindungi Diri dari Palestina, Israel Berniat Izinkan Warganya Pegang Senjata #Berdalih #Lindungi #Diri #dari #Palestina #Israel #Berniat #Izinkan #Warganya #Pegang #Senjata